Jakarta, Sekbernews.id – Gejolak geopolitik di Selat Hormuz kini mulai berdampak langsung ke dompet masyarakat Indonesia. Ketegangan di jalur perdagangan vital tersebut memicu lonjakan harga bahan baku plastik global, yang berujung pada melambungnya harga berbagai produk plastik di pasar domestik.
Berdasarkan pantauan di lapangan, para pedagang mulai mengeluhkan kenaikan harga yang cukup signifikan. Salah satu jenis plastik kantong yang semula dibanderol Rp15 ribu kini melonjak hingga Rp23 ribu. Tidak hanya itu, sedotan plastik pun ikut naik dari Rp8 ribu menjadi Rp10 ribu. Lonjakan paling drastis terjadi pada plastik kemasan merek tertentu yang melompat dari harga Rp36 ribu menjadi Rp60 ribu per pak.
Akar Masalah: Nafta dan Minyak Mentah
Penyebab utama fenomena ini adalah terganggunya pasokan nafta, senyawa hidrokarbon hasil olahan minyak mentah yang menjadi bahan baku utama pembuatan biji plastik. Karena Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak dunia, konflik di wilayah tersebut otomatis membuat biaya produksi dan logistik bahan baku plastik membengkak.
Merespons situasi ini, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita meminta masyarakat untuk tidak panik. Meski harga di tingkat pengecer mengalami kenaikan, ia menjamin ketersediaan stok produk plastik di pasar masih dalam kategori aman.
”Masyarakat dan industri hilir tidak perlu khawatir, karena produk plastik dipastikan masih tersedia di pasar,” ujar Agus dalam keterangannya.
Saat ini, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah bergerak cepat mencari solusi jangka pendek dan panjang, di antaranya:
- Mencari Pemasok Alternatif: Pemerintah mulai melirik negara di luar kawasan Timur Tengah untuk menyuplai kebutuhan nafta.
- Optimalisasi Bahan Baku Lain: Mendorong penggunaan LPG sebagai bahan baku penyangga industri plastik.
- Daur Ulang dan Bahan Nabati: Mengakselerasi pemanfaatan plastik daur ulang berkualitas tinggi serta meneliti potensi bahan pengganti plastik dari sumber alami seperti singkong dan rumput laut.
Meskipun Indeks Kepercayaan Industri (IKI) menunjukkan bahwa sektor industri kemasan per Maret 2026 masih berada di fase ekspansi, pemerintah tetap waspada terhadap dampak berkelanjutan dari konflik Timur Tengah ini agar tidak melumpuhkan daya beli masyarakat lebih jauh.







