Sekbernews.id – INDRAMAYU Bagi pecinta tenis dunia, nama Jannik Sinner kini bukan lagi sekadar pendatang baru. Petenis muda asal Italia ini menjelma menjadi sosok yang menguasai lapangan dengan ketenangan, teknik, dan mental baja.
Perjalanan hidupnya menarik, sebab jalan menuju puncak yang ditempuhnya justru berawal dari lintasan ski di pegunungan Alpen, bukan dari lapangan tenis.
Awal Kehidupan
Jannik Sinner lahir pada 16 Agustus 2001 di Innichen, sebuah kota kecil di wilayah South Tyrol, Italia Utara. Lingkungan tempat tinggalnya identik dengan olahraga musim dingin, dan sejak kecil ia memang diarahkan menjadi atlet ski. Hingga usia 13 tahun, Sinner sudah mencatatkan prestasi di level nasional.
Namun, keputusan besar datang ketika ia memilih meninggalkan ski dan beralih ke tenis. Orang tuanya, Johann dan Siglinde, yang bekerja di sebuah pondok ski, mendukung penuh langkah itu. Mereka bahkan rela melepas putra mereka pindah ke Bordighera di usia 14 tahun demi berlatih serius. Dari sinilah titik balik perjalanan Jannik Sinner dimulai.
Menanjak Cepat di Dunia Tenis
Berbeda dengan banyak petenis yang bersinar sejak junior, Sinner justru melewati masa remaja tanpa torehan mencolok. Ia baru tampil penuh di level profesional pada 2018. Tetapi langkahnya terbilang cepat. Hanya dalam setahun, ia sudah mencuri perhatian dunia dengan menjuarai Next Gen ATP Finals 2019 di usia 18 tahun.
Sejak itu, grafik kariernya menanjak tajam. Sinner terus konsisten mengoleksi gelar di turnamen ATP hingga akhirnya mencatat sejarah bagi Italia dengan menembus peringkat nomor 1 dunia pada Juni 2024.
Gelar-Gelar Bergengsi
Tonggak penting dalam karier Sinner adalah gelar Grand Slam. Ia meraih kemenangan pertamanya di Australian Open 2024 dengan menaklukkan dua nama besar, Novak Djokovic dan Daniil Medvedev. Keberhasilan itu berlanjut dengan gelar US Open di tahun yang sama.
Puncaknya datang pada 2025, ketika Sinner berhasil mempertahankan gelarnya di Australian Open dan kemudian meraih trofi Wimbledon—membuatnya tercatat sebagai petenis Italia pertama yang juara di nomor tunggal putra dalam sejarah Wimbledon era modern.
Di level tim, Sinner juga menjadi tulang punggung Italia saat menjuarai Piala Davis pada 2023 dan 2024.
Gaya Bermain
Di lapangan, Sinner dikenal sebagai pemain yang agresif dari baseline. Pukulan backhand dua tangannya dianggap salah satu yang terbaik di dunia tenis saat ini, dengan kecepatan dan rotasi bola yang sulit diantisipasi lawan.
Salah satu aspek menarik dalam kariernya adalah rivalitas dengan petenis muda asal Spanyol, Carlos Alcaraz. Pertemuan keduanya kerap menghadirkan laga spektakuler sehingga dijuluki “Sincaraz”. Meski rekor pertemuan masih dipimpin Alcaraz, duel mereka menjadi daya tarik utama dalam era baru tenis pria.
Kehidupan di Luar Lapangan
Di luar tenis, Sinner dikenal sederhana meski kini bergelimang popularitas dan kekayaan. Setelah menjuarai Wimbledon 2025, nilai kekayaannya diperkirakan mencapai 30 juta dolar AS. Ia tinggal di Monte Carlo, Monaco, dan menjadi brand ambassador sejumlah perusahaan ternama.
Tak hanya itu, pada 2025 ia mendirikan Jannik Sinner Foundation, sebuah yayasan yang berfokus pada pemberdayaan anak-anak melalui pendidikan dan olahraga. Hal ini menunjukkan sisi lain dirinya yang peduli pada generasi muda.
Dari Pegunungan ke Puncak Dunia
Kisah hidup Jannik Sinner membuktikan bahwa jalan menuju kesuksesan tidak selalu lurus. Dari seorang anak pegunungan yang bercita-cita menjadi juara ski, ia berubah menjadi ikon baru tenis dunia. Ketekunan, kerja keras, serta keberanian mengambil keputusan besar menjadikannya inspirasi bagi banyak orang.
Hari ini, Sinner bukan hanya kebanggaan Italia, tetapi juga simbol munculnya era baru tenis dunia. Dari raketnya, lahirlah cerita-cerita kemenangan yang menegaskan: masa depan olahraga ini ada di tangannya.



