JAKARTA, Sekbernews.id – Tanggal 2 April menempati posisi unik dalam kalender internasional. Hari ini bukan hanya menjadi pengingat bagi masyarakat global untuk meningkatkan empati terhadap individu dengan spektrum autisme, tetapi juga menjadi momen selebrasi bagi dunia literasi anak-anak, mengenang warisan sang maestro dongeng, Hans Christian Andersen.
Menembus Batas Spektrum: Hari Peduli Autisme Sedunia
Ditetapkan secara resmi oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui resolusi 62/139, Hari Peduli Autisme Sedunia (World Autism Awareness Day) diperingati setiap tanggal 2 April sejak tahun 2008.
Tujuan utama dari peringatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai gangguan spektrum autisme, sebuah kondisi perkembangan saraf yang memengaruhi interaksi sosial dan komunikasi.
- Kampanye “Light It Up Blue”: Tradisi ikonik pada hari ini adalah menyalakan lampu berwarna biru di gedung-gedung ternama dunia (seperti Empire State Building atau Menara Eiffel) sebagai simbol dukungan.
- Fokus Inklusi: Di tahun 2026, diskursus telah bergeser dari sekadar “kesadaran” (awareness) menuju “penerimaan” (acceptance) dan “pemberdayaan” (empowerment), memastikan bahwa individu autis mendapatkan hak yang setara di dunia kerja dan pendidikan.
Mengenang Sang Maestro: Hari Buku Anak Internasional
Selain isu kesehatan dan sosial, 2 April juga merupakan hari sakral bagi dunia pustaka. Sejak tahun 1967, organisasi nirlaba International Board on Books for Young People (IBBY) menetapkan tanggal ini sebagai Hari Buku Anak Internasional (International Children’s Book Day).
Pemilihan tanggal ini tidaklah sembarang. 2 April merupakan hari kelahiran Hans Christian Andersen (1805–1875), penulis asal Denmark yang melahirkan karya-karya abadi seperti The Little Mermaid, The Ugly Duckling, dan The Emperor’s New Clothes.







