WASHINGTON D.C., Sekbernews.id – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik nadir baru setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran. Trump mengancam akan melumpuhkan jaringan listrik Teheran jika jalur pelayaran strategis Selat Hormuz tidak segera dibuka sepenuhnya bagi lalu lintas internasional dalam waktu 48 jam.
Ancaman tersebut disampaikan Trump melalui platform media sosial Truth Social pada Minggu (22/3/2026). Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan segan-segan menyerang fasilitas energi Iran apabila blokade terhadap selat tersebut tetap berlanjut.
“Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz dalam waktu 48 JAM dari saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, DIMULAI DENGAN YANG TERBESAR TERLEBIH DAHULU!” tulis Trump.
Langkah Iran menutup Selat Hormuz merupakan bentuk pembalasan atas perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap negara tersebut sejak 28 Februari lalu. Penutupan ini berdampak sistemik terhadap ekonomi dunia, mengingat selat sempit ini merupakan jalur bagi sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global.
Akibat blokade tersebut, harga energi dunia melonjak tajam. Di Eropa, harga gas dilaporkan meroket hingga 35% hanya dalam waktu satu pekan terakhir. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan inflasi global yang meluas jika krisis energi ini tidak segera teratasi.
Menanggapi tekanan Washington, pihak Teheran memberikan jawaban diplomatis namun tegas. Ali Mousavi, perwakilan Iran untuk Organisasi Maritim Internasional (IMO), menyatakan bahwa Selat Hormuz pada dasarnya tetap terbuka bagi pelayaran internasional, namun dengan pengecualian bagi pihak yang dianggap sebagai lawan.
“Selat Hormuz terbuka untuk semua orang kecuali ‘musuh’,” ujar Mousavi sebagaimana dikutip dari kantor berita Mehr. Ia menambahkan bahwa keselamatan kapal dan kru memerlukan koordinasi ketat dengan otoritas maritim Iran.
Meski menekankan bahwa diplomasi tetap menjadi prioritas, Iran menegaskan bahwa jaminan keamanan dan penghentian agresi dari pihak asing adalah syarat mutlak bagi normalisasi jalur tersebut.
Di sisi lain, militer Iran melalui komando operasional Khatam Al-Anbiya memperingatkan AS dan sekutunya agar tidak gegabah. Teheran mengancam akan menyerang balik infrastruktur strategis milik Amerika Serikat di kawasan Teluk jika fasilitas energi mereka menjadi target serangan udara AS.
“Jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran dilanggar oleh musuh, semua infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi milik AS dan rezim di kawasan itu akan menjadi sasaran,” bunyi pernyataan resmi militer Iran.
Hingga saat ini, komunitas internasional, termasuk sekutu NATO, masih menunjukkan sikap hati-hati. Sebagian besar negara anggota NATO menyatakan keengganan untuk terlibat lebih jauh dalam konflik yang dipicu oleh kebijakan sepihak Washington, sementara dunia menunggu dengan cemas berakhirnya tenggat waktu 48 jam yang ditetapkan oleh Trump.







