Selasa, Juli 16, 2024
28.4 C
Indramayu
BerandaAgamaMengapa Iduladha 1445 H Berbeda Antara Indonesia dan Arab Saudi?

Mengapa Iduladha 1445 H Berbeda Antara Indonesia dan Arab Saudi?

Sekbernews.id – JAKARTA Penetapan Hari Raya Iduladha 2024 atau 1445 Hijriah mengalami perbedaan antara Pemerintah Arab Saudi, Pemerintah Indonesia, dan Muhammadiyah. Masing-masing otoritas agama menggunakan metode yang berbeda dalam menentukan awal bulan kamariah, yang menyebabkan perbedaan tanggal perayaan.

Pemerintah Indonesia, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama (NU) sepakat menetapkan Iduladha jatuh pada Senin, 17 Juni 2024. Sementara itu, Kerajaan Arab Saudi memutuskan Iduladha pada Minggu, 16 Juni 2024.

Menurut laman resmi Muhammadiyah, perbedaan penetapan ini terutama disebabkan oleh metode penentuan awal bulan kamariah yang digunakan. Muhammadiyah menggunakan metode Wujudul Hilal, sedangkan Arab Saudi menggunakan metode Rukyatul Hilal .

Metode Penentuan Awal Bulan Kamariah

Wujudul Hilal adalah metode yang digunakan oleh Muhammadiyah saat ini. Metode ini menentukan awal bulan kamariah jika terpenuhi tiga syarat secara kumulatif pada hari ke-29 bulan berjalan saat matahari terbenam:

  1. Terjadi konjungsi (ijtimak).
  2. Konjungsi terjadi sebelum matahari terbenam.
  3. Piringan atas bulan masih di atas ufuk ketika matahari terbenam.

Dengan menggunakan metode ini, Muhammadiyah menetapkan Idul Adha jatuh pada 17 Juni 2024 .

Di sisi lain, metode Rukyatul Hilal yang digunakan oleh Arab Saudi melibatkan pemantauan bulan sabit pertama secara visual ketika matahari terbenam di tanggal 29 bulan kamariah. Hilal harus terlihat di atas ufuk dan dalam posisi yang memungkinkan untuk terlihat. Arab Saudi berhasil melihat hilal pada maghrib 6 Juni 2024, sehingga menetapkan 7 Juni 2024 sebagai awal Zulhijah 1445 H dan Iduladha pada 16 Juni 2024 .

Pandangan Para Ahli

Thomas Djamaluddin, seorang profesor bidang ilmu astronomi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyatakan bahwa pada maghrib 6 Juni 2024, posisi hilal di Mekkah sangat rendah, kurang dari 1 derajat. Menurutnya, hilal mestinya tidak mungkin terlihat karena posisinya terlalu dekat dengan matahari dan cahaya syafak (senja) masih cukup kuat .

Namun, pada maghrib 7 Juni 2024, posisi hilal cukup tinggi, yaitu 8 derajat. Dengan demikian, rukyat di Mekkah dan Jakarta memprediksi 1 Zulhijah 1445 jatuh pada 8 Juni 2024, wukuf pada 16 Juni, dan Idul Adha pada 17 Juni .

Adib, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama, menjelaskan bahwa perbedaan waktu Iduladha di Indonesia dan Arab disebabkan oleh perbedaan letak geografis. Arab Saudi terletak lebih barat dari Indonesia, sehingga kemungkinan hilal terlihat lebih dahulu di sana.

“Waktu di Indonesia lebih cepat 4 jam, tetapi hilal justru mungkin terlihat lebih dahulu di Arab Saudi,” ujarnya .

Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Andi Pangerang, juga menambahkan bahwa hilal di Arab Saudi akan lebih mudah teramati karena kondisi atmosfer yang berbeda dengan Indonesia.

Ikuti Sekbernews.id di Google News.

Basnursyahhttps://sekbernews.id
Jurnalis Sekbernews.id yang menulis tentang berita nasional, pemerintahan, serta politik.
Artikel Terkait

Terkini