Harga Emas Ambruk! Ini Penyebabnya

Untung Surahman

harga emas

JAKARTA, Sekbernews.id – Aset aman (safe haven) yang selama ini menjadi primadona investor, emas, tengah mengalami masa kelam. Pada pembukaan perdagangan Senin (23/3/2026), harga emas kembali merosot, memperpanjang tren negatif yang telah berlangsung selama delapan hari berturut-turut.

​Berdasarkan data Refinitiv per pukul 06.59 WIB, harga emas diperdagangkan di level US$ 4.462,49 per troy ons, menyusut 0,56% dari penutupan sebelumnya. Kejatuhan ini merupakan kelanjutan dari hantaman keras pada akhir pekan lalu (20/3), di mana harga emas ambruk hingga 3,32% dalam sehari.

​Secara kumulatif, performa emas dalam sepekan terakhir mencatatkan rapor merah yang sangat tajam, yakni anjlok sebesar 10,58%. Angka ini mencatatkan sejarah kelam sebagai penurunan mingguan terdalam sejak Maret 1983, atau dalam kurun waktu 43 tahun terakhir.

Anomali Geopolitik dan Dominasi Dolar AS

​Apa yang menyebabkan “mahkota” emas seolah hilang? Para analis melihat adanya pergeseran fundamental dalam perilaku pasar. Biasanya, di tengah ketegangan geopolitik—seperti konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat sejak akhir Februari lalu—emas akan diburu sebagai pelindung nilai. Namun, kali ini emas justru menunjukkan korelasi negatif.

​Emas kini bergerak layaknya aset berisiko (risky assets) seperti saham, yang ikut rontok saat volatilitas pasar meningkat. Faktor utama yang “menghabisi” daya tarik emas adalah keperkasaan dolar AS.

​Melonjaknya harga minyak mentah dunia memicu permintaan global yang masif terhadap mata uang hijau tersebut, mengingat komoditas energi diperdagangkan dalam denominasi USD. Penguatan dolar yang signifikan secara otomatis menekan harga emas, membuatnya menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Cengkeraman Suku Bunga dan Harapan di Tengah Volatilitas

​Selain faktor dolar, ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga yang lebih tinggi turut memperparah keadaan. Dalam lingkungan makro saat ini, investor cenderung beralih ke aset yang memberikan imbal hasil (yield) lebih pasti dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga (non-yielding).

​Nasib serupa juga menimpa perak yang bernasib lebih tragis, dengan pelemahan sebesar 27,8% sejak pecahnya konflik di Timur Tengah pada 28 Februari lalu.

​Meski demikian, secercah harapan muncul dari akumulasi cadangan devisa China. Hingga saat ini, cadangan emas Negeri Tirai Bambu tersebut mencapai 74,22 juta troy ounce. Langkah China yang terus menambah pundi-pundi emasnya dianggap sebagai “lantai struktural” atau batas bawah yang dapat menahan harga emas agar tidak jatuh lebih dalam ke jurang depresi harga yang lebih ekstrem.

​Kini, pelaku pasar sedang menanti apakah emas mampu melakukan rebound teknis atau justru akan terus kehilangan kilaunya di tengah tekanan ekonomi global yang kian brutal.

Leave a Comment

Hot Nows ionicons-v5-c